Ditulis pada tanggal 14 October 2016, oleh admin, pada kategori Berita

Dikirim oleh oky_dian pada 29 September 2016

Vaksin kontrasepsi pria hasil penemuan Prof. Dr. Drh. Aulani’am, DESS dan Timnya saat ini sudah terdaftar paten dan diupayakan mendapatkan hak paten.

Prof. Dr. Drh. Aulanni’am, DESS sebagai peneliti dan staf ahli Institute Biosanis menyampaikan produk dari penelitian ini sudah dilakukan secara in vivo di laboratorium dan menunjukkan hasil yang sangat bagus, sebagai vaksin kontrasepsi pria yang efektif, aman dan reversible.

“Hak paten dari rangkaian penelitian ini merupakan modal peneliti untuk bekerjasama dengan industri, agar tidak akan ada komplain terhadap produk yang sudah kita produksi,” katanya.

Penelitian tentang vaksin kontrasepsi pria sendiri sudah dilakukan sejak belasan tahun lalu oleh tim peneliti Universitas Brawijaya. Vaksin kontrasepsi yang sedang dikembangkan ini berupa Human Recombint Protein yang akan menganggu proses spermatogenesis melalui gangguan terhadap ikatan antara hormon FSH dan reseptornya yaitu FSHR.

Pada prinsipnya, kontrasepsi bagi pria itu bertujuan untuk menghambat pembuahan dengan memperlambat motilitas (gerakan) dan gerakan sperma, sehingga tidak bisa mencapai sel telur.

Cara itu telah diujicobakan ke hewan percobaan mencit dan tikus putih dan telah terbukti dapat mengurangi jumlah anak kedua hewan itu. Selain itu juga tidak mempengaruhi sintesis hormon yang berkaitan dengan libido yaitu hormon LH.

Tahap penelitian yang akan dilakukan selanjutnya adalah aplikasi pada manusia. Upaya ini dilakukan bekerjasama dengan para dokter terkait reproduksi Pria. Kontrasepsi tersebut tidak akan mengganggu produksi hormon pria yang berkaitan dengan Libido dan dapat dengan mudah kembali ke kondisi kesuburan semula setelah suntikan dihentikan atau bersifat reversible yaitu terjadi infertilitas pria sementara.

“Kelebihan alat kontrasepsi pria ini tidak mengganggu profil hormon LH, karena tidak menganggu libidonya. Kontrasepsi ini hanya mencegah spermatogenesis atau pembentukan sperma. Apabila spermatogensis dihambat maka ada penekanan terhadap infertilitas pria. Vaksin ini ideal karena setelah dihentikan tidak mengganggu proses spermatogenesis dan kualitas sperma akan kembali semula,” katanya.

Untuk diaplikasikan pada manusia, masih melalui beberapa tahap penelitian seperti penyiapan approval dari komisi etik penelitian kesehatan, ethical clearance dan inform concern.

“Kita ingin dasar penelitiannya berjalan bagus sehingga produk ini jadi unggulan produk berikutnya dari UB melalui program academic, bisnis dan pemerintah (ABG) dan  dan menuju masyarakat melalui program academic, bussines, government, dan community (ABGC),” katanya.

Dalam kunjungan ke Institut Biosains beberapa waktu lalu, kepala BKKBN Dr. Surya Chandra Surapaty, MPH, PhD mendukung kontrasepsi pria buatan karya anak bangsa, peneliti  Institut Biosains tersebut. Dikatakannya, jika memang aman dan efektif maka akan segera disosialisasikan ke masyarakat.

“Harapannya kontrasepsi ini bisa disosialisasikan dan mendukung program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga,” katanya.

Sementara itu, vaksin kontrasepsi pria hasil penemuan  Prof. Dr. Drh. Aulani’am, DESS dan timnya dalam penjajagan kerjasama dengan BKKBN. [Oky Dian/Humas UB]